Berendam di Mulut Gua
Posted By: Admin
Last Update by:Tue 13 Des 2011, 11:51:56
Kecantikan Kabupaten Kupang membuncah kemana-mana. Tak hanya di bibir pantai, di atas tanah, tetapi juga melesak di perut bumi.
Untuk mengetahui misteri dan pesona dunia bawah tanah, anda bisa mengintip lewat jendela alamiah. Apalagi kalau bukan Gua. Maka datanglah ke Kabupaten Kupang karena ada banyak gua dimana-mana.
Jika berangkat dari Pelabuhan Fery Bolok, berarti perjalanan wisata anda sudah dekat ke Gua Alam Kristal Bolok. Ini lah gua yang memiliki sumber mata air dan panorama stalagtik nan mempesona.
Dari mulut sampai perut gua, pengunjung bisa berendam dan berenang melepas lelah. Akan lebih dahsyat lagi jika menyelam hingga menyentuh dasar mata air.
Masih di kawasan Bolok, terdapat satu gua lagi yang tak kalah menawan. Yakni Gua Burung Layang-layang. Nama gua yang berjarak 18 Km dari ibukota kabupaten ini sama dengan spesies burung yang bermukim di dalamnya.
Ya, disini, terdapat komunitas Burung Layang-layang yang membangun sarang serta menjalani aktifitas sehari-hari di dalam gua. Disebut Burung Layang-layang karena bentuk fisik serta kelincahannya menyerupai layang-layang.
Ide familiar jika anda berkunjung sambil menenteng layang-layang. Siapa tahu, para burung akan menerima barang tentengan anda layaknya saudara. Ha.ha.ha... (maaf bercanda).
Baik, sekarang, jika menginginkan lokasi gua yang lebih jauh, datanglah ke Gua Atoni Akaf. Bertempat di Desa Benu, Kecamatan Takari, gua yang berjarak 76 Km dari ibu kota kabupaten ini, menawarkan kesempurnaan sebuah panorama alam. Karakteristik serta arsitektur gua,lahir karena kebaikan alam. Lekak-lekuk alamiah muncul dimana-mana.
Gua Lia Madira
Keluar dari Kabupaten Kupang, wisata gua bisa berlanjut ke Pulau Sabu. Di sini terdapat sebuah gua yang teramat eksotis. Namanya, Gua Lia Madira. Saat berkunjung ke Pulau Sabu, gua ini tak luput dari buruan saya.
Gua Alam dengan kedalaman kurang lebih 100 meter ini berada dalam lintasan perjalanan ke arah Padero. Persisnya setelah 8 km menyusuri jalan makadam (tak beraspal), plus 1 km jalan tanah. Lokasi gua berada di pinggir jalan.
Tiba di mulut gua, berbekal Lampu Petromax, saya dan beberapa tokoh masyarakat sekitar, bergerak menyusuri perut gua. Saat memasuki bagian dalam, terasa sekali, manfaat lampu yang saya bawa. Dia lah satu-satunya sumber cahaya yang mampu menyibak kegelapan gua. Jalan masuk hanya selebar 1 meter. Itu membuat lebar gua terlihat sempit dari luar.
Dengan keberanian yang sedikit dipaksakan, perlahan langkah saya mulai menembus mulut dan kerongkongan gua. Memasuki 15 meter pertama jalan mulai menurun.
Di atas kepala, palung-palung gua tampak bergelantungan. Selanjutnya, 25 m ke depan, luas gua semakin lebar. Tak lama kemudian, kamipun tiba di sumber mata air.
Konon, mata air ini berkhasiat. Selain bercahaya, basahan airnya bisa membuat wajah awet muda. Saya percaya. Sekali basuh, wajah saya langsung basah.
Dengan wajah yang masih basah, seperti biasa, jemari saya langsung memencet tombol kamera. Jeprat-jepret,jeprat-jepret, mulut kamera pun melahap seluruh sudut gua.
Kawatir kehabisan udara segar, saya dan beberapa tokoh masyarakat, segera kembali ke mulut gua. Tiba di dunia luar, tubuh dan baju saya tiba-tiba basah.
Bukan karena tersiram mata air, tetapi terembes keringat dan peluh dari pori-pori. Saya tersenyum. Itu lah peluh kesekian saya yang mengucur di tanah Sabu. (Albert Jata – Bentara Wisata Edisi Khusus Sabu Raijua)