Dalam Kuasa Para Dewa
Posted By: Admin
Last Update by:Sun 11 Des 2011, 10:26:52
Sampai hari ini, mayoritas masyarakat Sabu memeluk agama Kristen Protestan. Meski demikian, sampai hari ini pula, mereka masih mempertahankan kepercayaan adat. Mereka memiliki agama adat yang disebut Agama Jingitiu. Di dalamnya terdapat para dewa atau Deo, serta tokoh gaib yang memiliki kekuatan metafisis.
Masing-masing dewa, dalam kepercayaan masyarakat, diyakini berasal dari roh para leluhur. Atas keyakinan itu pula, mereka mempercayai bahwa roda kehidupan sehari-hari ada dalam kuasa para dewa.
Semua yang ada di bumi (Rai Wawa) berasal dari Deo Ama atau Deo Woro Deo Penyi (dewa pembentuk dan mancipta).
Kendati sosoknya amat misterius, namun Deo Ama sangat dihormati sekaligus ditakuti.
Menurut kepercayaan,di bawah Deo Ama terdapat beberapa roh yang mengatur kegiatan musim. Diantaranya, musim kemarau yang diatur oleh Pulodo Wadu, serta musim hujan oleh Deo Rai.
Penghormatan kepada dewa diwujudkan melalui upacara adat. Upacara yang disakralkan lewat sajian pemotongan hewan besar ini, dipimpin oleh Deo Pehami, atau orang yang yang dilantik dan diurapi. Tiap-tiap upacara bertujuan melindungi tiga sumber kehidupan, yakni pertanian, peternakan, penggarapan laut dan kehidupan manusia.
Selain itu, upacara juga untuk menghormati tiga mahluk gaib penjaga langit (Liru Balla), bumi (Rai Balla),dan laut (Dahi Balla). Masyarakat Sabu juga memiliki pembawa hujan yaitu angin barat (wa lole), selatan (lou lole), serta dari Timur (dimu lole).
Hampir di semua kegiatan, masyarakat Sabu melibatkan kuasa para dewa. Bahkan, untuk menyadap Nira pun, bayangan akan dewa tak bisa hilang.
Setiap kali menyadap, mereka meminta support supranatural dari Dewa Mayang, selanjutnya saat menampung di wadah Haik, giliran Dewa Penjaga Wadah yang ‘bekerja’.
Pada proses pemasakan Nira menjadi Gula Sabu, mereka meminta perlindungan dari Haba Hawu dan Jiwa Hode yang bertugas menjaga kayu bakar.
Di luar pembuatan gula, masyarakat Pulau Sabu juga ‘memanggil’ dewa untuk kegiatan matapencarian utama, misalnya bercocoktanam. Agar ladang dan sawah tetap subur dan tanaman tumbuh menghijau, tak lupa mereka meminta ‘budi baik’ Dewa Manguru dan Dewa Putri Agung.
Dewa terakhir masuk dalam kelompok dewa wanita. Dewa Putri Agung bertugas mengawal musim hujan.
Perlindungan untuk mata pencaharian utama juga berlaku pada bidang peternakan. Setiap ternak memiliki dewa sendiri-sendiri, misalnya Deo Pada untuk Kambing, serta Dewa Mone Bala untuk gembalanya.
Sakral
Untuk kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti membangun perkampungan, kehadiran para dewa tetap diperhitungkan.
Untuk menjaga kampung, mereka mempercayakan kepada Dewa Uli rae, mengemudikan atau mengarahkan kampung bagian dalam sisi timur diserahkan kepada Dewa Maki Rae.
Sedangkan untuk menangkis bahaya, permintaan tolong jatuh kepada Dewa Aji Rae dan Tiba Rae.
Tak hanya perkampungan, rumah pun tak luput dari sentuhan para dewa. Sebelum dan selama membangun rumah, masyarakat Sabu harus menggelar upacara untuk menghormati semangat atau Hamanga adat.
Ungkapan sakral yang terucap selama upacara adalah wie we worara webahi (jadikanlah seperti tembaga besi).
Dalam masa tertentu, rumah-rumah mereka juga menyediakan sesajen untuk Dewa Deo Ama-Deo Apu, atau dewa bapak-dewa leluhur. Mereka percaya bahwa kedua dewa adalah titisan roh leluhur yang sudah meninggal.
Selain dewa pelindung, masyarakat Sabu juga meyakini keberadaan dewa perusak. Salah satunya adalah Dewa Wango yang bertempat tinggal di laut.
Dewa ini dikenal sebagai penyebab segala macam penyakit, hama tanaman, angin ribut, serta sejumlah bencana. Karena itu, kepadanya harus dibuat upacara khusus untuk mengembalikannya ke laut. Dengan tindakan ini, mereka percaya akan selamat dari bermacam musibah.
Setelah itu, mereka juga kerap menggelar upacara untuk Sang Banni Ae, dewa wanita yang rajin menurunkan bencana. Menurut mereka, meninggalkan atau melalaikan upacara untuk Bani Ae sama halnya membiarkan sang dewa menyemburkan amarah.
Jika tidak sabar, besar kemungkinan Bannu Ae akan memeras payudaranya, dan jika menimpa manusia bakal menimbulkan penyakit cacar.
Bersamaan upacara penangkal bala, masyarakat Sabu juga rajin melakukan upacara Ruwe. Yakni, upacara untuk menetralkan pelanggaran.
Setelah selesai, tugas terakhir adalah menjalankan tetuah Dewa Deo Heleo. Kenapa? karena Deo Heleo adalah dewa yang tak pernah bosan mengawasi gerak-gerik seluruh masyarakat Sabu. Mengabaikan pengawasannya berarti memanggil bencana. (Tim Bentara Wisata -- Edisi Khusus Sabu Raijua)